QIRA’AT IMAM ALI KISA’I DAN NAGHOM NAHAWAND

Biografi Imam Ali Kisa’i
Pernahkah Anda mendengar nama Imam Al-Kisa`i? Saya yakin Anda pernah mendengarnya, atau bahkan sering. Beliau adalah Imam besar dari ulama Nahwu dan Qira’ah, rujukan utama penduduk Kufah di abad kedua Hijriyyah.

Di bidang Qira’ah, beliau merupakan salah satu Imam Qira’ah yang tujuh (al-qurra` as-sab’ah), riwayat beliau sampai sekarang masih dibaca dan diajarkan. Dan di ilmu Nahwu, beliau adalah pimpinan al-madrasah al-kuufiyyah, yaitu sebuah aliran di bidang ilmu Nahwu, seperti istilah madzhab dalam ilmu fikih.

Dan semua orang -terutama thalabatu al-‘ilm- tentu mengetahui, bahwa beliau adalah seteru utama Imam Sibawaih, yang kepadanya ri`aasah (kepimpinan) madrasah al-bashriyyah dinisbatkan. Dan kebanyakan perbedaan pendapat dalam masalah Nahwu, semuanya bermuara kepada pemikiran kedua Imam tersebut.

Nama lengkap Beliau ialah Imam Al-Kisa`i adalah Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Utsman, dan Utsman adalah putra dari Bahman bin Fairuz mantan budak Bani Asad. Beliau adalah penduduk asli kota Kufah, namun hijrah dan menetap di Baghdad.

Dan Al-Kisa`i adalah julukan yang beliau peroleh setelah berihram mengenakan kain yang tidak lazim dipakai saat ihram, kain itu di dalam bahasa Arab disebut kisaa`. Maka mulai saat itu beliau dijuluki Al-Kisa`i dan beliau lebih dikenal dengan julukannya daripada nama aslinya.

Dalam ilmu bahasa Arab dan Nahwu, beliau berguru kepada guru yang sama dengan Imam Sibawaih, yaitu Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Masyaallah, dari tangannya lahir dua ulama besar yang menjadi rujukan dalam masalah bahasa/Nahwu.

Adapun Al-Quran, beliau belajar dari Imam Hamzah. Bahkan beliau menyetorkan hafalannya kepada gurunya tersebut sebanyak 4kali. Dan bacaan gurunya itu yang terlihat pengaruhnya pada bacaan beliau.

Dan beliau juga belajar dari Muhammad bin Abi Laila dan Isa bin Umar Al-Hamadzani. Adapun al-huruf (ilmu huruf Al-Quran), beliau belajar dari Syaikh Abu Bakr bin Ayyasy (Syu’bah).

Para ahli sejarah menulis dalam buku-buku mereka bahwa Imam Al-Kisa`i mempunyai beberapa karya tulis/buku, dan mereka juga menyebutkan nama judul-judul buku yang pernah ditulis oleh beliau.

Di antara judul karya Imam Al-Kisa`i sebagaimana disebutkan ahli sejarah adalah sebagai berikut:

1- Ma’anii Al-Qur`an ( معاني القرآن ).

2- Al-Qira`aat ( القراءات ).

3- An-Nawaadir ( النوادر ).

4- An-Nahwu ( النحو ).

5- Al-Hijaa` ( الهجاء ).

6- Maqthuu’ Al-Qur`aan wa Maushuuluh ( مقطوع القرآن وموصوله ).

7- Al-Mashaadir ( المصادر ).

8- Al-Huruuf ( الحروف ).

9- Al-Haa`aat ( الهاءات ).

10- Asy’aar ( أشعار ).

Namun faktanya, sampai saat ini kita tidak pernah menemukan bukti fisik akan keberadaan buku-buku tersebut. Mungkin buku-buku beliau termasuk yang dibakar dan dimusnahkan oleh bangsa Tatar (Mongol) ketika mereke menyerbu khilafah islamiyyah di Baghdad hingga runtuh, yang saat itu berada di tangan Dinasti Abbasiyyah.

Beliau meninggal dalam sebuah perjalanan bersama rombongan Khalifah Harun Ar-Rasyid menuju Khurasan, tepatnya di sebuah desa bernama Ranbawaih, dan beliau dimakamkan di sana.

Dan wafat juga di tempat dan hari yang sama seorang ulama besar, sekaligus murid senior Abu Hanifah yang bernama Muhammad bin Al-Hasan. Khalifah Harun Ar-Rasyid berkata: “Pada hari ini, kita telah memakamkan (tokoh) Nahwu dan Fikih bersamaan”.

Imam Al-Kisa`i wafat pada tahun 189H dalam usia 70 tahun. Semoga Allah merahmatinya, dan semua ulama Islam.

Pujian Ulama

1- Ismail bin Ja’far Al-Madani -beliau termasuk murid senior Imam Nafi’- berkata:” Aku tidak pernah melihat orang yang lebih bagus bacaan Al-Qurannya dari Al-Kisa`i”.

2- Sebagian ulama berkata: “Dahulu apabila Al-Kisa`i sedang membaca Al-Quran atau berbicara, seakan-akan ada malaikat yang menjelma dan berbicara”.

3- Imam Yahya bin Ma’in -rahimahullahu- berkata: “Aku tidak pernah melihat dengan kedua mataku ini, orang yang lebih baik bahasanya dari Al-Kisa`i”.

4- Imam Syafi’i -rahimahullahu- berkata: “Siapa yang ingin mendalami ilmu Nahwu, maka ia berhutang budi kepada Al-Kisa`i”.

5- Al-Fudhail bin Syadzan berkata: “Setalah Al-Kisa`i menyelesaikan  Al-Quran pada (gurunya) Hamzah, ia pergi ke kampung Arab Badui, ia tinggal dan berbaur dengan mereka serta mempelajari bahasa mereka, setelah ia kembali ke kota, ia menjadi ahli bahasa”.[3]

  1. Bacaan dan cara baca Imam Ali Kisa’i
  2. Riwayat Abu Harits
  3. Memisah di antara dua surat

Abu al-Harits memisah di antara dua surat dengan bermasalah.

  1. Mim Jama’
  2. Abu al-Harits membaca dhummah ha’ dan mim dari setiap mim jama’ yang sesudahnya berupa sukun dan sebelumnya berupa ha’, baik sebelumnya ada huruf ya’ sukun ataupun tidak, seperti عَلَيْهُمُ الذِّلَّةِ – بِهِمُ الأَسْبَابِ.
  3. Panjang dan Pendek bacaannya.
  4. Apabila mad muttasil maka Abu al-Harits membaca 2 alif seperti جَآء.
  5. Apabila mad munfasil maka Abu al-Harits membaca 2 alif, seperti بِمَآ أُنْزِلَ .
  6. Dua hamzah berurutan dalam satu kalimat maupun dua kalimat.

Adapun dalam bacaan hamzah berurutan baik dalam satu dan dua kata baik harakatnya sama maupun beda, maka bacanya Abu al-Harits pun biasa, yakni tahqiq semua, seperti ءَأَنْذَرْتَهُمْ .

  1. Isymam
  2. Abu al-Harits membaca isymam dengan suara shad ke huruf za’, hanya pada lafal tertentu yakni seperti  يَصْدِفُوْنَ, فَاصْدَعْ.
  3. Abu al-Harits membaca isymam harakat dhummah ke dalam kasrah pada lafal سِيْئَتْ, حِيْلَ, قِيْلَ, غِيْضَ, جِيْئَ, سِيْقَ, سِيْئَ
  4. Idzhar dan Idgham
  5. Setiap huruf dzal lafal إِذْ bertemu huruf ت, ز, ذ, صdan س, maka Abu al-Harits membaca idgham seperti إذْ تَّخْلُقَ .
  6. Setiap huruf dal lafal قَدْ bertemu huruf س, ش, ص, ض, ظ, ج, ز, ذ maka Abu al-Harits membaca idgham, seperti قَدْ جَّاءَكُمْ .
  7. Setiap ta’nits (تْ) bertemu huruf ص, ظ, ث, ج, ز, س maka Abu al-Harits membaca idgham, sepertiكَذَّبَت ثَّمُتُ
  8. Setiap huruf lam lafalبَلْ bertemu dengan hurufت, ث, ز, س, ض, ط, ظ, ن  maka Abu al-Harits membaca idgham seperti بَلْ طَّبَغَ
  9. Setiap huruf lam lafalهَلْ bertemu dengan hurufت, ث, ن  maka Abu al-Harits membaca idgham sepertiهل ثُّوِبَ
  10. Setiap lafal tertentu yang berdekatan makhrajnya, sepertiذْ bertemu huruf تdalam lafal اتَّخَذ تُّمْ  maka Abu al-Harits membaca idgham.
  11. Fathah dan Imalah

Abu al-Harits membaca imalah pada:

  1. Setiap lafal dzawatil ya’, seperti lafal الهُدَى
  2. Setiap alif ta’nits seperti lafalالمَوْتى, سُكَارَى
  3. Setiap alif yang terletak sebelum ra’ di ujung kalimat, sepertiأبصَارِهِمْ
  4. Setiap lafalرَأْى (imalah ra’ dan hamzahnya)
  5. Setiap huruf hijaiyyahح, ي, ط, ه, ر pada awal surat, sepertiطه, الر
  6. Adapun khusus ta’ marbuthah (ة) yang sebelumnya berupa hurufح ع خ ض ط ظ غ ص ق maka di baca 2 versi, yakni fathah biasa dan imalah, sepertiخَافِضَة
  7. Dalam akhir ayat dalam 11 surat tertentu, Abu al-harits membaca seluruh alif yang aslinya ya’ atau alif yang berbentuk ya’ (dzawatil ya’) dengan imalah semua tanpa di baca fathah. Surat tersebut ialah Taha, an-Najm, al-Ma’arij, al-Qiyamah, an-Nazi’at, ‘Abasa, al-A’la, asy-Syams, al-Lail, ad-Duha, dan al-‘Alaq.
  8. Setiap ta’ marbuthah (ة) dalam keadaan waqaf yang sebelumnya berupa huruf selainا ح ع خ ض ط ظ غ ص ق أ ك ه ر sepertiدَرَجَة
  9. Adapun khusus ta’ marbuthah (ة) yang sebelumnya berupa hurufأ ك ه ر maka di baca imalah jika waqaf apabila sebelumnya berupa huruf yang berharakat kasrah atau ya’ sukun, sepertiهَيئَة
  10. Setiap ta’ marbuthah (ة) dalam keadaan waqaf yang sebagian tertulis denganت , maka tetap di anggap ta marbuthah (ة), sepertiرَحْمَت
  11. Setiap lafalالأَبْرَارِ, الأَشْرَارِ, القَرَارِ
  12. Kalimat-kalimat yang cara bacanya berbeda dengan Hafsh

Adapun di antara sebagian kalimat-kalimat yang cara bacanya berbeda dengan riwayat Hafsh ialah:

  1. Membaca hurufه dari lafalهو  danهي  jika jatuh setelah و, فdanل  maka di baca sukun ha’nya, sepertiوَهْوَ, وَهْيَ, لَهْيَ

أَبُوْ الحَارِثْ           : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

أَبُوْ الحَارِثْ           : اَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

أَبُوْ الحَارِثْ           : اَلرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنَ

أَبُوْ الحَارِثْ           : إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

أَبُوْ الحَارِثْ           : إهْدِنَا الصِّرَطَ المُسْتَقِيْمِ

أَبُوْ الحَارِثْ           : صِرَاطَ الَّذِ يْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ ٱلضَّآلِّيْنَ

 

الجَمْعُ بَيْنَ الفَاتِحَةَ وَالبَقَرَةِ

ثَلاثَةُ أوْجُهِ أبُوْ الحَارِث       : صِرَاطَ الَّذِ يْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ ٱلضَّآلِّيْنَ ۙ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۙ الم                                                                          

                                   : وَلاَ ٱلضَّآلِّيْنَ ۙ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ  الم                                                                              : وَلاَ ٱلضَّآلِّيْنَ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ  الم    

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

أَبُوْ الحَارِثْ           : الٓمّٓ ۙ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

أَبُوْ الحَارِثْ           : الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُونَ

أَبُوْ الحَارِثْ           : وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ

أَبُوْ الحَارِثْ           : اُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

أَبُوْ الحَارِثْ           : اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

أَبُوْ الحَارِثْ           : خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

 

  1. Riwayat ad-Duri Ali
  2. Memisah di antara dua surat

Ad-Duri Ali memisah di antara dua surat dengan basmalah.

  1. Mim Jama’

Ad-Duri Ali membaca dhummah ha’ dan mim dari setiap mim jama’ yang sesudahnya berupa sukun dan sebelumnya berupa ha’, baik sebelumnya ada huruf ya’ sukun ataupun tidak, seperti بهُمْ الأَسْباب – عَلَيْهُمُ الذِّلَّةَ.

  1. Panjang dan Pendek bacaanya
  2. Apabila mad muttasil maka ad-Duri Ali membaca 2 alif seperti جَآء.
  3. Apabila mad munfasil maka ad-Duri Ali membaca 2 alif, seperti بِمَآ أُنْزِلَ .
  4. Dua hamzah berurutan dalam satu kalimat maupun dua kalimat.

Adapun dalam bacaan hamzah berurutan baik dalam satu dan dua kata baik harakatnya sama maupun beda, maka bacanya ad-Duri Ali pun biasa, yakni tahqiqsemua, seperti ءَأَنْذَرْتَهُمْ .

  1. Isymam
  2. Ad-Duri Ali membaca isymam dengan suara shad ke huruf za’, hanya pada lafal tertentu yakni seperti  يَصْدِفُوْنَ, فَاصْدَعْ.
  3. Ad-Duri Ali membaca isymam harakat dhummah ke dalam kasrah pada lafal سِيْئَتْ, حِيْلَ, قِيْلَ, غِيْضَ, جِيْئَ, سِيْقَ, سِيْئَ.
  4. Idzhar dan idgham
  5. Setiap huruf dzal lafal إِذْ bertemu huruf ت, ز, ذ, صdan س, maka ad-Duri Ali  membaca idgham seperti إذْ تَّخْلُقَ .
  6. Setiap huruf dal lafal قَدْ bertemu huruf س, ش, ص, ض, ظ, ج, ز, ذ maka ad- Duri Ali  membaca idgham, seperti قَدْ جَّاءَكُمْ .
  7. Setiap ta’nits (تْ) bertemu huruf ص, ظ, ث, ج, ز, س maka ad-Duri Ali  membaca idgham, sepertiكَذَّبَت ثَّمُتُ
  8. Setiap huruf lam lafalبَلْ bertemu dengan hurufت, ث, ز, س, ض, ط, ظ, ن  maka ad-Duri Ali  membaca idgham seperti بَلْ طَّبَغَ
  9. Setiap huruf lam lafalهَلْ bertemu dengan hurufت, ث, ن  maka ad-Duri Ali  membaca idgham sepertiهل ثُّوِبَ
  10. Setiap lafal tertentu yang berdekatan makhrajnya, sepertiذْ bertemu huruf تdalam lafal اتَّخَذ تُّمْ  maka ad-Duri Ali  membaca idgham.
  11. Fathah dan Imalah
  12. Setiap lafal dzawatil ya’, seperti lafal الهُدَى
  13. Setiap alif ta’nits seperti lafalالمَوْتى, سُكَارَى
  14. Setiap alif yang terletak sebelum ra’ di ujung kalimat, sepertiأبصَارِهِمْ
  15. Setiap lafalرَأْى (imalah ra’ dan hamzahnya)
  16. Setiap huruf hijaiyyahح, ي, ط, ه, ر pada awal surat, sepertiطه, الر
  17. Adapun khusus ta’ marbuthah (ة) yang sebelumnya berupa hurufح ع خ ض ط ظ غ ص ق maka di baca 2 versi, yakni fathah biasa dan imalah, sepertiخَافِضَة
  18. Dalam akhir ayat dalam 11 surat tertentu, Abu al-harits membaca seluruh alif yang aslinya ya’ atau alif yang berbentuk ya’ (dzawatil ya’) dengan imalah semua tanpa di baca fathah. Surat tersebut ialah Taha, an-Najm, al-Ma’arij, al-Qiyamah, an-Nazi’at, ‘Abasa, al-A’la, asy-Syams, al-Lail, ad-Duha, dan al-‘Alaq.
  19. Setiap ta’ marbuthah (ة) dalam keadaan waqaf yang sebelumnya berupa huruf selainا ح ع خ ض ط ظ غ ص ق أ ك ه ر sepertiدَرَجَة
  20. Adapun khusus ta’ marbuthah (ة) yang sebelumnya berupa hurufأ ك ه ر maka di baca imalah jika waqaf apabila sebelumnya berupa huruf yang berharakat kasrah atau ya’ sukun, sepertiهَيئَة .
  21. Adapun khusus ta’ marbuthah (ة) yang sebelumnya berupa huruf غ ص ق ح ع خ ض ط ظ maka dibaca 2 versi, yakni fathah biasa dan imalah, seperti خَافِضَة .
  22. Setiap ta’ marbuthah (ة) dalam keadaan waqaf yang sebagian tertulis denganت , maka tetap di anggap ta marbuthah (ة), sepertiرَحْمَت
  23. Setiap lafalالأَبْرَارِ, الأَشْرَارِ, القَرَارِ.
  24. Kalimat-kalimat yang cara bacanya berbeda dengan Hafsh

Adapun di antara sebagian kalimat-kalimat yang cara bacanya berbeda dengan riwayat Hafsh ialah:

  1. Membaca hurufه dari lafalهو  danهي  jika jatuh setelah وفdanل  maka di baca sukun ha’nya, sepertiوَهْوَ, وَهْيَ, لَهْيَ

Selain itu masih ada beberapa perbedaan lagi yang terdapat dalam kaidah farsy dan ushuly lainnya.[4]

 الدُّرِي عَلي         : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 الدُّرِي عَلي         : اَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

 الدُّرِي عَلي         : اَلرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنَ

 الدُّرِي عَلي          : إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

 الدُّرِي عَلي          : إهْدِنَا الصِّرَطَ المُسْتَقِيْمِ

 الدُّرِي عَلي          : صِرَاطَ الَّذِ يْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ ٱلضَّآلِّيْنَ

 

الجَمْعُ بَيْنَ الفَاتِحَةَ وَالبَقَرَةِ

ثَلاثَةُ أوْجُهِ الدُّرِي عَلي       : صِرَاطَ الَّذِ يْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ ٱلضَّآلِّيْنَ ۙ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۙ الم                                                                          

                                   : وَلاَ ٱلضَّآلِّيْنَ ۙ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ  الم                                                                              : وَلاَ ٱلضَّآلِّيْنَ  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ  الم    

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

 الدُّرِي عَلي         : الٓمّٓ ۙ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

 الدُّرِي عَلي         : الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُونَ

 الدُّرِي عَلي         : وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ

 الدُّرِي عَلي         : اُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

 الدُّرِي عَلي         : اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

 الدُّرِي عَلي         : خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas bahwa dapat disimpulkan bahwa qiro’at adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang imam dari qurro’ diantara tujuh yang sanadnya bersambung sampai rasulullah. Sedangkan nagham yakni merupakan salah satu dari sekian ekspresi seni yang menjadi bagian intergral hidup manusia bahkan nagham ini telah tumbuh sejak lama.

Nama lengkap Beliau ialah Imam Al-Kisa`i adalah Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Utsman, dan Utsman adalah putra dari Bahman bin Fairuz mantan budak Bani Asad. Beliau adalah penduduk asli kota Kufah, namun hijrah dan menetap di Baghdad.

 

Daftar Pustaka

Chasan Albab, 2016, Pengantar Qiro’at Tujuh, Semarang: Moncer press

Muhsin Salim, 2007, Ilmu Qira’at Sepuluh Jilid I, Jakarta, PTIQ

http://www.gurubahasarab.com/2015/08/biografi-imam-al-kisai.html

via QIRA’AT IMAM ALI KISA’I DAN NAGHOM NAHAWAND | kumpulan makalah ushuluddin



Allahu A'lam. Allah Maha Mengetahui.
Semua kesalahan yang ada di blog ini datangnya dari kesalahan dan lalainya manusia (saya sendiri), mohon koreksinya kalau dirasa ada yang salah.

Tags: ,

Facebook Comments:

No comments yet.

Leave a Comment

Remember to play nicely folks, nobody likes a troll.