Kenapa tubuh kita demam?

dari Jabir radiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَى أُمِّ السَّائِبِ (أَوْ: أُمِّ الْمُسَيَّبِ)، فَقَالَ: مَا لَكِ يَا أُمَّ السَّائِبِ (أَوْ: يَا أُمَّ الْمُسَيَّبِ) تُزَفْزِفِيْنَ؟ قَالَتْ: اَلْحُمَّى، لاَ بَارَكَ اللهُ فِيْهَا. فَقَالَ: لاَ تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِيْ آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ.

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk Ummu as-Saib (atau Ummu al-Musayyib), kemudian beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi denganmu wahai Ummu al-Sa’ib (atau wahai Ummu al-Musayyib), kenapa kamu bergetar?’ Dia menjawab, ‘Sakit demam yang tidak ada keberkahan Allah padanya.’ Maka beliau bersabda, ‘Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam, sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat’.“[1]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

” الحمَّى ” هي السخونة ، وهي نوع من الأمراض وهي أنواع متعددة ، ولكنها تكون بقدَر الله عز وجل ، فهو الذي يقدِّرها وقوعاً ، ويرفعها سبحانه وتعالى ، وكل شيءٍ من أفعال الله فإنه لا يجوز للإنسان أن يسبَّه ؛ لأن سبَّه سبٌّ لخالقه جل وعلا ، ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم : ( لا تسبوا الدهر : فإن الله هو الدهر )

“Demam yaitu rasa panas/hangat merupakan jenis penyakit yang sering terjadi, akan tetapi terjadi karena takdir Allah, Allah yang menakdirkannya. Segala sesuatu yang merupakan perbuatan Allah maka tidak boleh bagi manusia mencelanya karena jika mencelanya berarti mencela penciptanya. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘jangalah kalian mencela waktu karena Allah adalah (pengatur dan pencipta) waktu.”[2]

[2] Syarh Riyadus shalihin 6/467-468

Demikianlah secara umum sakit bisa menggugurkan dosa seseorang asalkan dia bersabar Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya”[3] HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 651

Dan beliau shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ وَصَبٍ، حَتَّى الْهَمُّ يُهِمُّهُ؛ إِلاَّ يُكَفِّرُ اللهُ بِهِ عَنْهُ سِيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu hal yang lebih berat dari itu melainkan diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya karenanya.” HR. Muslim no. 2572

Bahkan bisa jadi ia tidak mempunyai dosa sama sekali, menjadi suci sebagaimana anak yang baru lahir ketika sembuh atau ketika meninggal karena penyakit tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ

“Cobaan akan selalu menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya maupun pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun.”[5] HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya, dan dinyatakan hasan shahih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/565 no. 2399

 

Hampir setiap manusia pernah terkena demam

Karenanya demam tidak perlu dicela karena memang sudah menjadi jatah manusia di dunia dan ternyata bermanfaat, bisa menggugurkan dosa-dosa kita.

Oleh karena itu, Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

الحمى حظ المؤمن من النار

“demam adalah bagian jatah seorang mukmin dari neraka”[6] [6] Dari Munad Ibnu Syihab dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terkena demam dengan panas dua kali lipat manusia.

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata,

دخلت على النبي صلى الله عليه وسلم وهو يوعك، فوضعت يدي عليه فوجدت حره بين يدي فوق اللحاف، فقلت: يا رسول الله، ما أشدها عليك! قال: إنا كذلك يضاعف لنا البلاء ويضاعف لنا الأجر، قلت: يا رسول الله، أي الناس أشد بلاءً؟ قال: الأنبياء، قلت: يا رسول الله، ثم من؟ قال: ثم الصالحون، إن كان أحدهم ليبتلى بالفقر حتى ما يجد أحدهم إلا العباءة يحويها، وإن كان أحدهم ليفرح بالبلاء كما يفرح أحدكم بالرخاء

 

“Aku pernah mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sedang sakit. Kemudian Aku letakkan tanganku di atas selimut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamaku dapati panasnya (sangat panas karena yang disentuh adalah selimutnya, bukan badannya, pent).

Aku berkata, “wahai Rasulullah, betapa beratnya demam ini!”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya kami para nabi, diberi ujian yang sangat berat, sehingga pahala kami dilipat gandakan.”

Abu Said pun bertanya, ‘wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;

Para nabi, kemudian orang shaleh. Sungguh ada diantara mereka yang diuji dengan kemiskinan, sehingga harta yang dimiliki tinggal baju yang dia gunakan. Sungguh para nabi dan orang shaleh itu, lebih bangga dengan ujian yang dideritanya, melebihi kegembiraan kalian ketika mendapat rezeki.”[7] HR. al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubro (3/372) dishahihkan al-Albani

 

Bahakan para sahabat juga terkena demam.

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullah berkata,

وقد أصيب الصحابة لما وصلوا المدينة بالحمى، فوعك أبو بكر و بلال ، ودخلت عائشة على أبيها فقالت: يا أبت، كيف تجدك؟ ويا بلال ، كيف تجدك؟ وكان أبو بكر إذا أخذته الحمى يقول:
كل امرئ مصبح في أهله والموت أدنى من شراك نعله

“Para Sahabat terkena demam ketika sampai di Madinah. Maka Abu Bakar dan Bilal terkena demam. Kemudian ‘Aisyah menemui mereka kemudian berkata,

“wahai ayah bagaimana keadaannmu? Wahai Bilal bagaimana keadaanmu?”

Abu Bakar ketika tertimpa demam beliau berkata,

“Setiap orang bersama keluarganya padahal kematian lebih dekat daripada tali sandalnya.” [8] Durus shautiyyah, sumber: http://islamport.com/w/amm/Web/1587/154.htm

 

Manfaat demam secara medis

Ternyata demam memiliki menfaat bagi tubuh dan merupakan proses tubuh dalam adaptasi dan menyesuaikan dengan keadaan tubuh yang terkena serangan infeksi atau peradangan. Berikut ringkasan manfaat demam:

1.meningkatkan kekebalan atau imunitas alami tubuh, sehingga infeksi bisa terkendali terutama infeksi virus

2.mengurangi zat besi yang merupakan sumber makanan bagi kuman

3.meningkatkan mobilitas sel darah putih untuk melawan penyakit dan infeksi

4.demambisa menurunkan efek racun dari kuman yaitu yang disebut endoktoksin

5. dan masih banyak manfaat demam lainnya.

 

AKan tetapi demam juga perlu dikontrol dan jangan sampai terlalu lama dan berlebihan. Selebihnya bisa kontrol ke dokter untuk mengontrol demam dan memeriksakan penyebab demam.

Alhamdulillah segalanya memang ada hikmahnya dan tidaklah Allah menciptakannya dengan sia-sia.

 

Demikian semoga bermanfaat

@RS Mitra Sehat, Wates,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

via  Manfaat Demam Untuk Tubuh (Syariat Dan Medis) | MuslimAfiyah



Allahu A'lam. Allah Maha Mengetahui.
Semua kesalahan yang ada di blog ini datangnya dari kesalahan dan lalainya manusia (saya sendiri), mohon koreksinya kalau dirasa ada yang salah.

Facebook Comments:

No comments yet.

Leave a Comment

Remember to play nicely folks, nobody likes a troll.